Powered by Blogger.

Namaku...


Namaku Roy, saat ini aku berumur 20 tahun dan sedang menjalani kehidupan sebagai mahasiswa elektro semester 4 di Yogyakarta. Single dan emang lagi nggak mau pacaran, kenapa ? karena emang lagi nggak ada niat. Aku berasal dari kota Solo, jadi bisa dibilang 'anak perantauan' padahal nggak jauh banget antara Yogyakarta dan Solo. Selama kuliah di Yogyakarta aku bersama 2 teman seperjuanganku dari kota Solo, Angga dan Candra. Angga udah punya pacar sejak SMA, kalau si Candra juga sama nasibnya, baru nyampe Yogya udah langsung ngincer cewek-cewek dan sekarang udah dapet.
Kedua orang ini ngebet banget nyariin pacar buat saya, dan pasti cewek yang dipilihin aneh-aneh, cantik sih cantik tapi kalau lagi males ya gimana lagi. Setidaknya saya juga masih nggak terlalu 'jaga jarak' sama cewek, nyatanya saya juga masih bisa mention cewek di Twitter ( anggep aja kehitung komunikasi sama cewek).  Saya juga punya kebiasaan makan di warung padang, kenapa ? karena tempatnya lebih bersih, serius cuma gara-gara itu doang. Rasanya sih biasa aja sama yang lain.



Hari ini Kamis, dan berarti sepanjang siang di kampus, kelar baru jam 5 sore ! dan kalau pulang jam segitu berarti di jalan Monjali pasti penuh, rame, macet !  Tapi karena udah capek dan pengen cepet mandi, ya dibela-belain macet-macetan. Kebetulan pas lagi macet, mata ini berbinar karena menangkap nama warung makan. Memang sejak pagi belum makan dan perut udah protes, yaudah akhirnya mampir buat isi perut. Setelah ambil makanan dan nyari tempat duduk di bawah kipas angin, saya sekilas melihat wajah yang familiar, langsung aja aku panggil namanya.

" Hei... nad! ", cewek itu adalah si Nadia, pacarnya Angga, kebetulan juga kami sudah akrab.

" Eh Roy, sendirian ?"

" Iya nih.. bisa gabung nggak? "

 Dengan anggukan kepala yang ditujukan kepadaku, aku langsung duduk di depan Nadia. Kami ngobrol banyak hal, dan pada akhirnya dia bertanya.

" Roy, kamu mau aku kenalin ke temenku nggak ? cantik lho, dari Solo juga, namanya Dina."

Seperti biasa, pertamanya aku menolak dengan alasan sibuk, tapi setelah melihat fotonya niatku untuk 'menyibukkan diri' langsung hilang.


" Dia juga jurusan ekonomi nad, kayak kamu?" dia mengiyakan pertanyaanku. Si Nadia ini termasuk orang yang super cerewet, dia begitu antusias menyuruhku untuk berkenalan dengan Dina.


Hari, jam dan tempat sudah diatur. Hari Sabtu tepat jam 7 malam bertempat di Coffee Corner, aku datang lebih awal, sebelumnya memang sudah berniat menjemput Dina di kostnya tapi karena aku belum tau kostnya jadi aku urungkan saja. Aku melirik jam tanganku, sudah pukul 7:12 . Tapi sosok Dina yang hanya aku tau lewat foto belum nampak, akhirnya aku memesan minuman dulu, aku memesan Ice Chocolate. Ketika aku berjalan ke temapt dudukku, jadi arah depan aku lihat Di tan membuka pintu. Bodohnya aku, aku tidak langsung menyapanya, aku terus berjalan ke mejaku dan aku baru melambaikan tanganku. Stupid Idea. Dia tersenyum simpul, aku memanggil waitress dan memesan makanan untuk Dina.

" Kenalin, aku Dina" ucapnya sambl tersenyum. Manis Sekali.

" Hai, aku Roy" jawabku ke Dina

" Udah lama roy kamu nunggunya ? "

" Baru aja sampe kok din, nyantai aja. " Jawabku singkat.

Dina orangnya asik, ramah, cantik. Aku baru tahu kalau Dina bisa bermain gitar sekaligus piano. Sungguh sempurna. Untuk sejenak aku tidak bisa berkata apa-apa kecuali mendengarkan suaranya yang merdu dan sorot matanya yang indah. Kami ngobrol banyak hal, film, musik, kuliah, banyak. Tidak terasa sudah pukul 10, waktu terasa begitu cepat. Kebetulan Dina juga mau pulang, dia sudah memasukkan semua barang ke dalam tas coklatnya, dengan senyum manisnya dia permisi dan meminta maaf karena harus pulang lebih awal. Aku pun mengerti maksutnya, dengan anggukan kepala dan beberapa patah kata, aku mengantar Dina ke motornya dan menunggu sampai dia tidak lagi terlihat. Ah sungguh seperti di film saja.

Setelah Dina pergi, aku mengeluarkan laptopku dari tas, aku memang sengaja tidak mengeluarkan laptop sewaktu berdua dengan Dina, aku tidak tahu kenapa. Aku kemudian memulai penjelajahan di dunia maya. Aku mulai dengan mengetik nama Dina di mesin pencari, di tengah pekerjaanku aku merasa bingung. Sebelum kenal Dina aku bukan tipe orang yang suka mencari info tentang seseorang dengan menggunakan internet, aku lebih suka menanyai langsung. Dalam sekejap aku putuskan untuk segera mengakhiri kegiatan 'stalking' ini. Karena sudah tidak ada kegiatan lagi aku pun berniat untuk pulang dan segera memejamkan mata.


Minggu 09;30 Pagi

Hari ini aku bangun terlambat, sinar matahari  yang menerpa kulit begitu terasa menggangguku. Kembali teringat, kemarin malam aku terjaga sampai sekitar pukul 3 pagi karena menonton sepakbola. Aku pun bergegas mandi dan menuju ke tempat makan favorit. Warung Padang ! Setelah beberapa puluh menit mengendarai motor, akhirnya sampai ke tempat yang dituju. Sambil mengantri aku melihat sekeliling, tepat di seberang ruangan aku melihat ada seorang perempuan berrambut hitam, rambut yang dikucir dan memakai earphone. Dia sedang cuci tangan di wastafel di sebarang ruangan. Aku mengamatinya begitu saksama, entah kenapa. Kemudian aku mengambil makanan dan langsung duduk di pojok ruangan. Di tempat itu aku bisa melihat seluruh ruangan, aku kembali menengok si cewek berkucir itu. Dia ternyata bersama 2 orang temannya. Aku tidak bisa berhenti menatap dia. Tiba-tiba kesadaranku mulai kembali,

"Sial, kenapa aku malah fokus ke cewek itu, niatku datang ke sini kan buat makan." kataku dalam hati.

Dengan cepat kuhabiskan sarapan telatku ini, setelah cuci tangan dan membayar, aku pun bergegas pergi dari tempat itu. Entah, aku merasa bingung dengan ini, aku merasa bersalah dengan Dina, padahal aku belum ada ikatan apapun dengannya. Ini aneh. Seaneh rasa es teh yang aku minum tadi, hambar dan aku yakin itu teh bekas kemarin. Begitu sampe kost, aku langsung menuju ke kamar, berganti pakaian dan menuju ke lapangan futsal, karena memang siang ini aku ada jadwal futsal mingguan bersama teman jurusan. Kegiatan untuk para jomblo


Sekitar 3 Bulan kemudian


Today is the day. Aku akan menyampaikan perasaanku kepada Dina. Ya... Dina, menurutku aku sudah sangat mengenal Dina. Aku berencana mengajaknya makan malam di restoran yang aku kira cukup untuk mewakili sebagian perasaanku ini. Setelah aku jemput Dina di kostnya, aku kemudian mengendarai motorku dengan santai ke restoran yang dituju. Setelah beberapa puluh menit berkendara dan selesai memarkirkan motorku, kami pun segera masuk. Kami duduk dan memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol ringan, menurutku Dina tidak tahu tujuanku mengajaknya datang ke tempat ini.

" Tempatnya bagus ya Roy, makanannya juga enak lho disini."
" Loh, kamu pernah kesini sebelumnya Din ?"
" Dulu sih, sama keluarga, ngrayain ulang tahun adik, hehe"
" Oh gitu ya, tapi aku baru pertama kali kesini haha. "
" Masak sih ? lha sebelumnya kalo makan dimana dong ? Oh iya aku lupa, tempat makan favoritmu kan di Warung Padang ya ?" kata Dina sambil tersenyum. Manis.
" Itu tau, by the way, malam ini kamu kelihatan beda deh Din, lebih berseri-seri gitu.."
" Masak sih ? aku padahal belum mandi lho. hahahaha..." 

Aku berharap dia cuma bercanda, masak sih cantik banget gini belum mandi, pikirku.
Setelah ngobrol-ngobrol beberapa lama, akhirnya makanan datang. Dina memesan Parmesan cheese and truffle oil dan Jus Melon. Sedangkan aku memesan Pancake dan Signature Iced Chocolate.

Selesai makan, aku kembali ke niat awalku ke tempat ini.
"Dina, sebenarnya aku mengajak kamu kesini karena ada yang mau aku omongin ke kamu. Aku suka kamu, aku mau kita ke tahap yang lebih lanjut, maukah kamu jadi pacarku ?" ( Oke, aku mengakui kalau ini bukan kata-kata terbaik yang pernah aku ucapkan, di depan Dina, aku merasa sangat grogi)
Dina nampak terkejut, dia tidak sempat berkedip ketika aku mengatakan perasaanku ke dia. Dia sepertinya tidak menyangka hal ini.

"Roy... kamu cowok yang baik, tapi sepertinya kalau ke tahap yang lebih kayaknya nggak bisa. Aku udah nganggep kamu sebagai temen baik. udah sebagai sahabat. Kamu ngerti kan ? "

Ucapan Dina yang hanya beberapa itu cukup membuat mata, telinga, bahkan otak ini blank. Aku hanya bisa mencoba tersenyum dan tidak membuat tampang sedih. Padahal hati ini sudah babak belur, aku sudah sangat yakin. Tapi hasilnya berkebalikan dari ekspektasi.
Aku melirik jam, sudah pukul 9 malam. Aku mengajak Dina untuk pulang. Dina mencoba menenangkan aku dan meyakinkan aku, kalau di luar sana masih banyak perempuan yang bisa benar-benar mengerti dan menerimaku. Saat itu semua ucapaan darinya aku anggap hanya angin lalu, semua indraku serasa tertidur, mati rasa.

Aku turunkan Dina di depan kostnya, dengan senyum dibuat-buat aku pamit pulang. Dia hanya melambaikan tangan dan meminta maaf, ah sama sekali tidak membantu.
Aku tidak langsung pulang. Aku membelokkan motor ke Coffee Corner, setelah memarkirkan motor aku memesan kopi dan duduk. Entah kenapa aku memilih duduk di luar, mungkin karena aku butuh udara segar. Kepala ini hanya tertunduk dan rasanya susah sekali tegak lagi. Aku membayangkan yang sudah terjadi, 3 bulan lalu, ketika Nadia mengenalkanku pada Dina, dan akhirnya aku jatuh hati. Semua kenangan manis itu hanya terlihat seperti sampah sekarang. I'm great being single, this is why I avoid in a relationship.

Setelah minumanku datang, aku sama sekali tidak menyentuhnya, rasanya malas, malas sekali. Aku menatap langit, ah sungguh indah malam ini, sangat disayangkan tidak bisa sesuai rencana. Badanku berkeringat, karena itu aku menuju ke kamar mandi untuk cuci muka. Saat berjalan pun aku tetap melihat langit, karena itu satu-satunya hal yang indah malam ini. Tiba-tiba .... " Ouchh..."
Aku menabrak seseorang, dan dari suaranya pastilah dia perempuan. Dia terjatuh.

"Maaf, kamu ngga kenapa-napa kan ?". Sewaktu aku mengulurkan tanganku, aku melihat wajahnya, sangat familiar.

" Gapapa kok mas, santai aja, maaf tadi aku yang nggak liat jalan." jawabnya sambil dia menerima uluran tanganku.

Dia gadis berkucir yang aku lihat di Warung Padang beberapa waktu yang lalu, aku sangat yakin. Sebelum aku bertanya nama dan yang lain dia sudah masuk ke dalam Kedai, aku sampai lupa niat awalku untuk cuci muka dan kembali duduk.
Dia berada di dalam, aku bisa melihatnya dari luar. Dia bersama temannya, dari ekspresi muka dan banyaknya kertas di meja, mereka mungkin sendang mengerjakan tugas. Terkadang dia mengangguk-angguk karena mendengarkan musik lewat earphonenya, kadang dia tersenyum. Mungkin malam ini bukan hanya langit yang indah, tetapi ada satu lagi yang lebih indah, senyum gadis berkucir yang sama sekali tidak ku ketahui namanya.

Aku masuk ke dalam, aku berniat menyapanya dan mengajaknya ngobrol, tapi waktunya tidak tepat. Baru saja aku mengalami malam yang berat. Aku tidak ingin buru-buru.
Aku berjalan ke kasir, aku bertanya ke waitress yang sekaligus penjaga kasir.

" Mas, mbak berkucir yang duduk disana tadi pesan apa ya ? "

" Oh itu, tadi mbaknya pesan Carmelitto Ice mas." jawabnya

" Pesen Carmelittonya satu, nanti diantar ke mbaknya ya mas, sekalian titip kertas ini, makasih. " Kataku sambil membayar dan memberikan secarik kertas yang berisi tulisan


  Terimakasih sudah membuat malamku ini jadi indah.

Saat itu juga aku langsung keluar untuk mengambil motor dan kemudian aku pulang.
Sepanjang jalan aku hanya tersenyum atas hal yang baru saja kulakukan, aku mungkin butuh waktu untuk sendiri dulu. Tapi aku tidak berkeberatan jika ada kesempatan buat berkenalan dengan perempuan berkucir yang memiliki senyum manis itu. Just take it slow.


*Sementara itu di Coffee Corner*

" Carmelitto ice nya mbak" kata waitress

" Loh kan saya nggak pesen lagi mas..."

" Tadi ada mas mas tinggi gitu mbak, nyuruh saya buat nganter minuman ini sama ngasih kertas ini mbak...ini kertasnya"

" Terimakasih sudah membuat malamku ini jadi indah. " baca si perempuan manis itu, dia tersenyum dan bertanya ke waitress, " Mana mas orangnya ?"

" Tadi duduk disana mbak, tapi kayaknya udah pergi deh.."

Perempuan berkucir itu menengok ke meja yang ditunjuk waitress tapi hanya ada kursi kosong. Menunggu untuk diisi.



                                                               

0 comments:

Post a Comment